Tak semudah yang aku kira, ketika melihat sosok bayang
dirinya, diri ini terlalu lemah tuk menatapnya, bibir ini seraya membisu, tubuh
ini seperti mematung tanpa sebab, dan hati ini telah terpikat oleh bayang indah
dirinya. Ketika ku coba melangkah mendekat, dirinya semakin menjauh, serta
meninggalkan bayang bayang yang diam diam mengaguminya, yang selalu
memikirkannya. Perasaan cinta yang tak pernah aku undang di benak dan
otakku, namun tanpa permisi masuk dan hadir dalam rasa ku.
Awalnya aku kira ini hanya rasa sesaat, rasa yang hanya
melintas seperti debu, kemudian terbang terbawa angin yang entah kemana arah
dan tujuannya. Namun seiring waktu berlalu, sejalan pula rasa ini akan ingin
memiliki hatinya. Namun ketika aku coba melangkah lagi, aku selalu terjatuh dan
terjatuh, pada lubang yang sama, lubang cinta yang menyiksa ku saat ini, cinta
yang membuat hati ini gelisa ketika tak melihat kehadirannya di sisi ini, cinta
yang mempengaruhi pemikiran ini yang membuat selalu memikirkan dirinya, namun aku
tak tahu apakah dia juga memikirkan hati yang tak berguna ini.
Seandainya ini semua hanya mimpi, aku akan selalu berharap
jika aku tak akan bangun dari mimpi indah ku ini, mimpi yang selalu aku
dambakan, mimpi yang membuat aku menjadi orang yang lebih berusaha untuk
mencapai tujuan yang diinginkannya, yaitu untuk mendapatkan dia. Kala rasa
cinta ini, seperti jejak kaki dipantai yang indah, yang akan terus terhapus
oleh deburan ombak yang berlarian, setiap kali aku melangkahkan kaki ini lagi,
setiap itu pula deburan ombak menghapus jejak jejak kaki ku ini.
Terkadang aku terdiam menyendiri, memikirkan apakah benar
rasa cinta ku ini terhadap sosok gadis yang telah memikat hati dan cinta ku
ini. Namun tak satu jawaban pun yang aku dapat, dan aku juga berharap rasa yang
tercipta ini bukan hanya sekedar harapan yang kosong, harapan yang seperti
selembar buku kosong, yang jika kita mencoba menulis cerita cerita indah,
sedih, susah, lucu, maupun yang mengesalkan pada buku itu dengan pena
kehidupan, dengan lugas kita torehkan kata kata yang indah, sampai seisi buku
tersebut penuh dengan jejak langkah kehidupan kita berdua, dan setelah buku
tersebut penuh akan tulisan tulisan cerita tentang kita, buku tersebut akan
tidak digunakan lagi dan akan hanya menjadi sesosok buku yang usang yang tak
berarti apa apa.
Tak banyak yang aku minta, tak banyak
pula yang aku tuntut, yang aku mau hanya diri ku ini menjadi tempat terakhirmu
untuk labuhkan cintamu yang suci nan
tulus itu, hanya itu,……. Hanya itu Ira,…. Namun tak semua yang kita ingin pasti
akan tercapai, dan tak semua yang aku harap akan teraih, semua keputusan ada
pada dirinya sendiri. Yang aku bisa lakukan hanya berusaha mencoba mendekati
dirinya. Namun bagaimana bisa aku mendekati dirinya, jika menatap matanya saja
aku tak mampu, menyapa dan mengucapkan “Selamat pagi Ira,….” Pun aku tak
sanggup. Ah,…. Mengapa diri ini terlalu lemah terhadap sosok yang menaklukkan
jiwa dan raga ku ini. Mungkin memang benar, lebih baik aku mengerjakam soal
matematika yang sangat rumit itu, daripada mencoba mendekati dirinya yang
selalu hadir dalam benak ini.
to be continue.......


0 komentar:
Posting Komentar